Hal yang Sulit Dipahami Oleh Pasangan yang Baru Menikah

Saat kita baru menikah, ekspektasi kita ke pasangan pasti tinggi. Berharap pasangan mampu memberikan apa yang kita inginkan. Menjadi persoalan saat pasangan kita tidak sesuai ekspektasi kita. Jadinya masing-masing penuh tuntutan.

Bagi istri, tuntutannya banyak. Ya nafkah yang cukup, perhatian yang penuh, cinta yang full ekspresif dan lain sebagainya. Bagi suami pun demikian berharap istri bisa menghormati, menghargai, bersikap manis, dan lain-lain. Satu hal sepele saja tidak terpenuhi, bisa jadi perang dunia ke tiga.

Kesalahan saya sebagai istri baru waktu itu, menuntut suami untuk full perhatian dan memberikam cinta yang ekspresif. Saya tidak paham, ternyata bagi suami saya fokus diawal rumah tangga adalah kemapanan ekonomi.

Kebanyakan laki-laki saat menikah kan belum mapan. Jika suami adalah laki-laki yang bertanggung jawab, pasti yang dipikirkan adalah bagaimana mampu memberikan kemapanan finansial untuk keluarga kecilnya. Suami saya yang waktu itu belum punya rumah sendiri, belum punya kendaraan yang nyaman, tabungan masih pas-pasan, keuangan menjadi fokus utamanya. Boro-boro kepikiran beromantis-romantis ria, pikirannya full untuk bagaimana menghasilkan uang.

Dari sini kebanyakan istri salah paham. Berprasangka suami nggak cinta lah, suami nggak perhatian lah, suami nggak peka lah dan lain sebagainya. Saya pun baru paham setelah beberapa tahun bertahan mendampingi suami, kalau ternyata laki-laki itu kebanyakan hanya bisa fokus satu hal. Sulit untuk bisa banyak fokus. Kalau sedang fokus banget dalam hal ekonomi, hal lainnya bisa tidak terpikirkan bahkan seolah mengabaikan. Padahal aslinya, bukan mengabaikan tapi dia merasa istrinya ada, sehat, itu sudah cukup. Dia hanya butuh diberi kepercayaan bahwa dia sedang menanggung tanggung jawab berat ya itu mencari nafkah. Jangan dituntut yang lain-lain, tambah pusing dan stres.

Di sisi lain, suami yang dituduh tidak cinta, tidak perhatian, egois dan lain-lain itu pasti tidak terima dan tidak mau disalahkan. Wong dia sudah menguras seluruh pikiran dan tenaga untuk keluarga kok dituduh tidak pengertian?

Istri yang salah paham pun akhirnya sulit menghormati, menghargai, apalagi menyayangi suaminya. Yang ada selalu bermuram durja.

Sikap istri yang seperti ini pastinya membuat suami salah paham juga. Beranggapan dirinya tidak berharga untuk istrinya. Walhasil terciptalah lingkaran setan yang terus berputar dalam kesalahpahaman.

Untuk bisa keluar dari kesalahpahaman itu, tidak bisa ditempuh hanya dalam waktu setahun dua tahun. Apalagi jika komunikasinya tidak baik, bisa seumur hidup terjebak dalam lingkaran salah paham.

Maka penting sekali untuk mampu menjadi pendengar yang baik. Apa yang dirasakan istri, apa yang dirasakan suami. Kemudian masing-masing memposisikan dirinya di pihak sebaliknya. Jika aku dipihak suami bagaimana si rasanya? Jika aku dipihak istri bagaimana si rasanya? dari situ timbul empati untuk bisa memberikan apa yang dibutuhkan pasangan kita.

Misalnya ooh istri butuh diperhatikan dan dicintai, diberikan kehadiran untuk dirinya merasa disayangi. Ooh suami butuh diberikan ruang untuk mengggali potensi dirinya dalam upaya menjadi kepala rumah tangga yang bertanggung jawab, dan lain sebagainya.

Semoga dengan pemahaman itu, komunikasi semakin lancar, hubungan semakin harmonis, rezeki pun mengalir deras.

Semangat pejuang rumah tangga🥰🥰🥰

Pic: Zakiyah @Kawaguchiko Tokyo, Japan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kembali ke Atas