Inner Child

Setiap diri kita memiliki sosok anak kecil di dalam. Orang sering menyebut sebagai inner child. Selama kita tidak bisa bernegosiasi dengan si anak kecil itu, maka dia yang akan mengontrol diri kita tanpa kita sadari.
Seperti dikatakan Sigmun Freud, Bapak psikoanalisis dunia, bahwa alam kesadaran pikiran kita seperti fenomena gunung es. Bagian gunung yang terlihat di atas, hanyalah sebagian kecil yaitu kisaran 12 % saja. Itu yang disebut alam atau pikiran sadar(conscious mind). Sementara bagian gunung yang di bawah permukaan yang tidak terlihat itu jauh lebih besar yaitu 88%, yang disebut sebagai alam bawah sadar(unconscious mind).
Kita mungkin berpikir, bahwa respon kita terhadap segala sesuatu, cara berpikir kita, sikap kita, perilaku kita, emosi kita, dan lain sebagainya itu didasari atas pikiran sadar kita. Padahal senyatanya, sebagian besar dari segala sesuatu yang keluar dari diri kita itu dikendalikan oleh bawah sadar kita.
Bawah sadar ini meliputi keyakinan (belief), ingatan (memory), informasi genetika, emosi, naluri, dorongan hidup dan lain-lain. Dimana segala sesuatu yang ada di alam bawah sadar kita menjadi tonggak kita dalam berpikir, berperasaan, merespon informasi, bersikap, berperilaku, berkeinginan, bermimpi dan lain sebagainya. Nah karena justru yang menjadi nahkoda dari respon diri kita adalah bawah sadar, maka seringkali kita tidak menyadarinya.
Nah, Inner child ini berada di alam bawah sadar. Karene alam bawah sadar sebagian besar terbentuk sejak dalam kandungan hingga masa anak-anak sekitar umur 12 tahun. Sehingga disebut inner child. Meskipun tidak semua bawah sadar kita ditentukan oleh pengalaman masa kecil, yaitu dibentuk juga oleh informasi genetika dari orang tua dan leluhur kita. Namun pola asuh dan pola didik di masa kecil kita lah, yang sebegain besar direkam oleh bawah sadar dan disebut sebagai inner child.
Jika inner child kita memiliki banyak pengalaman yang memberdayakan, tentunya itu bagus. Sehingga kita saat dewasa tidak ada trauma. Sementara jika inner child kita banyak mengalami pengalaman yang buruk, maka pengalaman itu tidak hilang. Dan itu tersimpan di dalam bawah sadar, yang akan mempengaruhi hidup kita.
Inner child yang terluka, tersakiti, ada kemarahan, kekecewaan, butuh perhatian, iri dengki, selalu disalahkan, dan lain sebagainya, akan terekspresi hingga dewasa bahkan tua, jika kita tidak berdamai dengannya. Dan itu akan sangat mempengaruhi respon kita atas segala sesuatu yang dihadapi dalam hidup ini. Segala respon yang kita wujudkan adalah ekspresi dari inner child itu. Karena meskipun namanya anak kecil, tapi dia mengendalikan sebagian besar alam diri kita yang tidak kita sadari (alam bawah sadar).
Lalu bagaimana cara mengatasinya, agar kita bisa berdamai dengan inner child yang terluka itu?
1. Identifikasi diri.
Dengan mengidentifikasi diri sendiri, kita jadi menyadari bahwa memang ada inner child yang terluka. Akui jika memang masih ada luka-luka batin di masa lalu. Memori apa saja yang masih menancap dan jika mengingatnya masih ada emosiĀ  atau bagian tubuh yang tidak nyaman, berarti ada luka di sana. Dengan mengidentifikasi diri sendiri, berarti kita bersikap jujur kepada diri sendiri, bahwa memang ada yang perlu dibenahi di dalam diri sendiri.
2. Menerima.
Dengan menerima, kita berarti tidak menolak, memusuhi, melawan, membenci dan lain sebagainya tentang pengalaman yang tidak nyaman tersebut. Dengan menerima berarti si inner child ini merasakan keberadaannya diperhatikan. Karena inner child ini sifatnya selalu meminta perhatian. Selama kita menolak, inner child akan semakin menguat, dan tentunya akan membuat kita semakin tersiksa. Berikan dukungan dan penerimaan kepadanya dengan afirmasi yang positif. Bahwa keberadaannya baik-baik saja, tidak mengancam, juga tidak membahayakan.
3. Ajak Berkomunikasi.
Sifat inner child ini ketika ditanya, dia akan menjawab. Jadi ajak dia berkomunikasi dengan diri kita yang sudah dewasa ini. Hadirkan kembali sosok dirinya yang terluka saat dulu. Tanyakan apa yang dirasakannya, apa yang diinginkannya, dia butuh apa, dan lain sebagainya. Dengan diajak berkomunikasi, akan terjadi kesepakatan antara diri kita yang sudah dewasa ini dengan si anak kecil. Dan dengan komunikasi juga kita jadi meluangkan waktu untuk ngobrol dengan diri kita sendiri. Seringkali kita menghabiskan banyak sekali waktu untuk ngobrol dengan orang lain, namun lupa berkomunikasi dengan diri sendiri. Sesekali, cobalah ngobrol dengan si inner child di dalam diri kita.
4. Release/Melepaskan.
Jika sudah diakui, diterima dan diajak komunikasi, maka saatnya melepaskan emosi negatif yang dibawa oleh memori inner child itu. Sehangga sepahit apa pun pengalaman di masa lalu, tidak ada lagi emosi negatif yang tersimpan. Kita sudah bisa melihatnya dengan netral dengan pandangan yang lebih memberdayakan. atau kita sering menyebutnya, kita sudah menemukan hikmahnya dari kejadian tersebut. Dengan melepaskan, berarti kita sudah bisa mengambil makna dari peristiwa itu. Melepaskan emosi inner child ini, bisa dengan berbagai macam teknik. Misalnya meditasi, berdzikir, sholat, melatih nafas, dan lain-lain. Atau bisa juga meminta bantuan tenaga profesional bagi yang traumanya cukup berat. Misalnya terapis atau psikolog/psikiater. Karena untuk yang trauma inner child-nya berat, kadang dengan bantuan profesional akan lebih mudah merelease-nya.
5. Pengasuhan ulang atau re-parenting.
Karena sifat dari inner child ini maunya yang enak-enak, maka dengan memberinya “makanan”yang enak, akan membuat kita lebih mudah berdamai dengannya. Maksudnya pengasuhan ulang, contohnya jika dulu suka dimarahin, saat ini asuh ulang inner child kita dengan memberikan apresiasi, dukungan, penghargaan dan lain-lain. Jika dulu kurang kasih sayang, maka berikan dia kasih sayang. Jika dulu selalu disalahkan, maka berikan dia pengakuan bahwa dia benar, dia bisa mengambil keputusan yang tepat, bertindak yang benar dan lain sebagainya.
Selamat mengenali inner child di dalam diri kita, dan selamat berdamai dengannya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kembali ke Atas