Mengakui Sedang Tidak Baik, itu Baik

Menjadi kewajaran sebagai manusia biasa, jika dalam sehari-hari kita tidak selalu happy. Kadang adakalanya bosan, adakalanya suntuk, adakalanya kelelahan, adakalanya marah, adakalnya bingung, adakalanya ambyar­čśâ. Nah, terkadang kita merasa berdosa saat dalam kondisi seperti itu. Apalagi yang memiliki keyakinan bahwa setiap waktu kita harus berpikir positif, harus bahagia, harus rileks, harus tenang dan lain sebagainya. Hai, tunggu dulu!

Akui, kita bukan malaikat yang tidak punya up and down perasaan. Kita adalah manusia, yang memang dianugerahi segala rasa-rasa. Asam, manis, kecut, asin, hehehe…. Maksudnya, segala rasa emosi memang kita punya dan itu fitrah.

Justru yang berbahaya adalah jika kita menampakkan  ketegaran, baik-baik saja, tersenyum, pasang muka ceria, tapi dalamnya ambyar. Kita jadi tidak jujur kepada diri sendiri juga kepada orang lain.

Banyak yang curhat di messanger fb saya, tentang gejolak emosinya yang sudah sampai ubun-ubun. Dan saya rasa itu baik, dia mencari orang yang bisa dipercaya untuk menuangkan unek-uneknya. Meskipun di laman fb nya dia nampak baik-baik saja, tetapi memendam gejolak emosi yang membara.

Kemampuan untuk tidak ekspresif dengan hal negatif di media sosial, tentu saja itu baik. Bukankah kita seringkali melihat postingan orang yang melampiaskan kemarahannya di media sosial dan kita yang membaca tidak nyaman? ya, paling tidak mereka yang sedang bergejolak di dalam, dan tidak membuat postingan aneh-aneh, cukup mempunyai tingkat pengendalian diri yang baik.

Namun, kita perlu jujur kepada diri sendiri. Bahwa memang di dalam sedang tidak baik. Dengan mengakui saja, sebenarnya kita sedang sadar, bahwa kita sedang tidak baik. Dan itu baik. Karena orang yang sadar, berarti dia bisa mengontrol dirinya sendiri.

Orang yang sembuh dari sakitnya, biasanya dia sadar bahwa dia sedang sakit. Sehingga dia berupaya mengkondisikan segenap tubuh, jiwa dan pikirannya untuk bekerja sama menjadikan dirinya sehat kembali. Tetapi mereka yang tidak sadar bahwa mereka tengah sakit, maka kadang tidak aware dengan apa yang harus dilakukan. Misalnya tetap saja makan berlebihan, tidak mau olah raga, tidak mau menjaga kesehatan, mempertahankan stressnya dan lain sebagainya, yang akan membuat sakitnya semakin parah.

Demikian juga orang gila di rumah sakit jiwa yang sembuh. Konon, mereka yang sembuh adalah mereka yang sadar bahwa dirinya memang sedang tidak waras. Jadi mereka sadar bahwa bahwa memang ada yang perlu diwaraskan. Namun, mereka yang tidak sadar bahwa dia gila, maka akan awet kegilaannya.

Pun demikian, orang yang bisa berintrospeksi diri. Mereka yang mau instrospeksi, sadar bahwa ada yang salah dengan dirinya, makanya bersedia memperbaiki diri. Jika orang sudah merasa benar, akan sangat sulit untuk introspeksi.

Jadi, mengakui bahwa diri sendiri itu sedang tidak baik, itu baik. Sehingga kita tahu apa yang musti dilakukan untuk menjadikannya baik kembali.

Karena yang utama bukan bagaimana menghilangkan segala perasaan yang membuat kita tidak nyaman itu. Tetapi bagaimana kita bisa mengelolanya dengan baik, sehingga emosi-emosi yang membuat ambyar tersebut tidak bercokol terlalu lama di dalam diri kita.

Semudah menghirup nafas dan menghembuskannya. Demikian juga saat kita sudah terampil, jika ada yang kita rasa tidak enak datang, bisa kita lepaskan dengan mudah. Banyak cara untuk merelease emosi negatif, barangkali vidio di youtube saya ini bisa dipraktekkan

Jika saat ini anda sadar bahwa anda sedang merasa tidak baik, tidak apa-apa, karena sesungguhnya itu baik­čśŐ

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Kembali ke Atas