Menu Pilihan

Zakiyah Darojah

Love, Joy, Peace & Blessed

Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga

Beberapa hari lalu, suami saya ulang tahun, dan saya ingin memberikan kejutan tipis-tipis πŸ™‚

Ini adalah bagian dari menjaga keromantisan dan keharmonisan rumah tangga πŸ˜€

Dan saya terpikir untuk menulis artikel pendek ini, karena banyak yang bertanya pada saya dan mengeluhkan hubungan rumah tangga mereka. Bagi saya rumah tangga itu, surga di dunia. Namun akan bisa menjadi neraka jika tidak pandai mengolahnya, meramunya dan meraciknya, menjadi taman surga.

Pesan-pesan yang masuk, kebanyakan menanyakan bagaimana mengatasi kondisi emosinya yang bahasa gaulnya acak adut, saking stressnya. Menguras energi, pikiran, emosi dan juga air mata. Dan ituΒ  semua terkait emosi dengan pasangan mereka (suami mereka). Ada yang dari masalah karakter pasangan, masalah ekonomi, masalah pasangan tidak mau andil dalam mendidik anak, dan lain-lain. Intinya, semua emosi yang bikin stres itu mereka pikir, karena bermula dari pasangan mereka.
.
Saya tidak banyak memberikan saran, kecuali mengembalikan solusi kepada mereka sendiri. Saya hanya bisa menceritakan pengalaman saya selama 9 tahun berumah tangga.
.
Saya bersama suami, sampai tahap seperti saat ini, yaitu lebih banyak waktu harmonisnya, saling mendukung, saling membantu, saling berbagi cerita, yang intinya klop banget gitu :), butuh waktu 9 tahun. Meski kadang masih suka debat, adu pendapat, tidak setuju suatu hal dan semacamnya juga masih, namun frekuensi dan kualitasnya sudah sangat jarang dan tidak sampai membuat badmood berhari-hari :).
.
Dan saya rasa, semua ini diawali dari proses penerimaan. Menerima tidak akan terjadi, jika kita masih menuntut. Nah, kebanyakan diantara kita masih menuntut pasangan kita, agar sesuai maunya kita. Ini kesalahan saya dulu awal-awal menikah.
.
Penerimaan terjadi jika kita sudah mengakui, dan bertanggung jawab atas emosi kita sendiri. Tidak menyalahkan pasangan kita sebagai penyebab ke-galau-an kita. Dengan kita bertanggung jawab dengan emosi kita, kita tidak lagi menuntut, tapi jadi sadar untuk terlebih dahulu memulai.
.
Contoh, jika suami saya tipe orang yang cuek habis. Babar blas nggak romantis, duluuu. Maka, ketika saya menuntut dia harus begini begitu, saya yang akan kecewa dan sakit hati. Jadi solusinya, saya dulu lah yang memulai romantis.
Misalnya, menuliskan surat cinta, mijitin, kasih hadiah, kasih kejutan dan lain lain. Seperti saat dia ulang tahun bulan ini, :). Saya berikan kejutan tumpeng ulang tahun dan hadiah kursi game yang sudah diidam-idamkannya. Secuek-cueknya orang, jika dikasih kejutan dan hadiah, pasti senang. dan itu terbukti.

Masalah pasangan nantinya akan membalas atau tidak, tidak usah diarep-arep (diharapkan). Tapi yang jelas, seiring waktu, perubahan akan terjadi. Suami saya sudah jauh perubahannya kini, padahal saya tidak menyuruh-nyuruh dia agar lebih perhatian misalnya. Tapi dia melihat sendiri dari saya memperlakukan dia, maka lambat laun, dia akan mencontoh perilaku kita.
.
Ini saya lakukan, ketika saya sadar, setiap orang punya kelebihan dan kekurangannya sendiri-sendiri. Kita pun demikian, bukan? Dan kita tidak suka kekurangan kita diungkit-ungkit kan? Pasangan kita pun sama. Seperti suami saya yang dulu mungkin kurang romantis, tapi dia bertanggung jawab atas nafkah kepada saya. Itu saya hitung sebagai salah satu kelebihannya. Jadi, Fokus pada kelebihan pasangan kita, kekurangannya kita terima.
.
Lalu yang perlu diperhatikan, menerima bukan berarti diam saja ya. Kalau menerimanya bener-bener nrimo sampai ke dalam lubuk hati itu bagus, tapi kalau cuma nrima-nrima di luaran saja, malah bisa menjadi tekanan batin lama kelamaan. Tampaknya nrima, tapi kemana-mana mengeluh. Berarti itu baru menerima di luaran saja, belum tulus.
.
Maka agar suami istri nyaman lahir batinnya, perlu komunikasi. “Tapi saya sudah komunikasi, ee suami malah tersinggung, marah dan lain lain,” ada yang protes seperti itu misalnya. Nah, di sinilah diperlukan komunikasi yang efektif. Perlu melihat waktu, kondisi, mood dan intonasi saat berkomunikasi juga.
.
Mengeluarkan unek-unek saat emosi lagi naik, itu jatuhnya marah-marah, bukan komunikasi. Atau komunikasi saat pasangan sedang lelah baru pulang kerja misalnya, malah bisa membuatnya tersinggung, dan semakin runyam persoalan. Komunikasi yang baik terjadi, saat yang disampaikan bisa dipahami oleh yang mendengarkan, tanpa yang mendengarkan merasa disalahkan. Tapi justru menarik empati nya, sehingga ia bisa menerima keluhan kita. Ini yang disebut asertif.
.
“Iya, saya sudah komunikasi, dan bilangnya iya iya, tapi nggak berubah juga. Jadinya kan sebel,” barangkali ada yang mengalami hal seperti ini?
.
Kita bisa berjalan butuh berapa kali latihan? Ah betul, banyak kali. Maka saat kita atau pasangan kita mau mengubah kebiasaan itu juga butuh latihan.
.
Suami saya misalnya sudah mengkomunikasikan, bahwa dia tidak suka melihat saya wajahnya manyun, jutek, nesuan, mudah marah. Wajah cemberut itu bikin dia sebel, katanya. Saya pahami itu, dan saya berusaha. Tapi tetep saja, akibat proses tekanan hidup di masa muda, cieeh πŸ˜…, mudah tersinggung, mudah jengkel, mudah marah, itu masih kebawa sampai ke pernikahan. Jadinya suami saya butuh sabar, untuk melihat wajah saya bisa berseri-seri setiap hari.
.
Dan itu perlu diingatkan berkali-kali. Karena kadang yang seperti itu itu, tidak disadari. Saking sudah jadi kebiasaan bertahun-tahun. Jadinya perlu dilatih, tidak bisa semudah membalik telapak tangan. Bahkan saya sampai belajar terapi senyum. Senyum-senyum sendiri, di depan kaca, ketemu orang, memandang alam, sambil senyum dan afirmasi
.
Contoh lainnya, saya sudah mengkomunikasikan bahwa saya butuh pelukan setiap hari. Bagi saya dipeluk itu moodboster tersendiri, dan saya merasa dicintai. Jadi saya minta suami sebelum tidur memeluk, meski saya tidur duluan. Dia bilang, ok. Tapi apa yang terjadi? sering lupa, karena lebih asyik dengan laptopnya… πŸ˜…. Tapi saya tidak putus asa, diingatkan lagi-diingatkan lagi, sampai dia paham dan jadi kebiasaan. Dan itu tidak ujug-ujug pastinya, butuh proses.
.
Jadi, masih punya ganjalan-ganjalan di hati dengan pasangan? Silakan dikomunikasikan. Hati plong, hubungan blong, rejeki moblong-moblong πŸ€—….Semoga keluarga kita, senantiasa harmonis, sakinah mawaddah warahmah selalu sepanjang usia kita…dan slogan rumahku surgaku, benar-benar kita rasakan nyata…amiiiin πŸ™‚
Menjaga Keharmonisan Rumah Tangga

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke Atas